Takluknya Ur Salim (Kota Kedamaian) Al Quds oleh Shalahuddin Al Ayyubi (Battle of Hattin 1187 M)


Hampir 100 thn sebelum Sultan Qutuz & Imam Izzudin Abdissalam(Abdul Aziz bin Abdissalam) As Syafi’i memenangkan perang melawan Mongol di Ain Jalut. 90 th setelah Yerusalem/Ūrsālim-Al-Quds direbut oleh tentara Salib 1.

Akibat kekalahan Kekaisaran Byzantium/Romawi Timur yang dipimpin Romanos IV Diogenes sewaktu menyerang Kesultanan Seljuk Rum yang dipimpin Sultan Alp Arslan rahimahullah, maka Kaisar Alexius I Comnenos(Kristen Ortodoks) meminta pertolongan kepada Paus Urbanus II (Katolik Roma). Kemudian datanglah rombongan pasukan Salib menyerang Yerusalem dan menaklukkannya. Dan terjadinya pembantaian muslimin di kota tersebut. Saksi sejarah Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.

Akibatnya banyak keluarga2 kaum muslimin yang berhijrah ke Damaskus dalam rangka menunaikan kewajiban hijrah(1) dari negeri kafir ke negeri islam, sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang(muslim) yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisa’ [4]: 97).

Salah seorang dari keluarga-keluarga tersebut adalah keluarga Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hijrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dan Muwaffaquddin(Ibnu Qudamah), juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H / 1146 M. Waktu itu umur Ibnu Qudamah 10 th.

Kemudian di belahan timur bumi yang lain 20 tahun sebelumnya yaitu tahun 532 H/1137 M tepatnya di Tikrit, Iraq lahirlah seorang bayi yang kelak akan menjadi pemimpin dan pemersatu para mujahidin menghadapi kaum kuffar. Bayi tersebut bernama Shalahuddin dari Bani Ayyub bangsa Kurdi.

Ayahnya menjadi penguasa Kesultanan Turki Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Baalbek dan menjadi pembantu dekat Raja Syam/Suriah Nuruddin Mahmud dari Keluarga Zanky. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari islam selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169 M, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir/menteri.